<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Blog Pejalan</title>
	<atom:link href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id</link>
	<description>Catatan Perjalanan Arie</description>
	<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 16:06:46 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>dari event FRAME (Foto Kita Sharing Moment): presentasi WLBS</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/08/24/dari-event-frame-foto-kita-sharing-moment-presentasi-wlbs/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/08/24/dari-event-frame-foto-kita-sharing-moment-presentasi-wlbs/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 15:17:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[edisi khusus wlbs]]></category>

		<category><![CDATA[edisi koleksi]]></category>

		<category><![CDATA[ekspedisi]]></category>

		<category><![CDATA[foto kita]]></category>

		<category><![CDATA[foto kita sharing moment]]></category>

		<category><![CDATA[frame]]></category>

		<category><![CDATA[kompas gramedia]]></category>

		<category><![CDATA[national geographic traveler]]></category>

		<category><![CDATA[ukirsari]]></category>

		<category><![CDATA[wisata lintas barat sumatra]]></category>

		<category><![CDATA[wlbs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Pekan lalu (21/08) di koridor belakang gedung Kompas Gramedia (KG), Jalan Panjang No 8A telah dilangsungkan acara FRAME (Foto Kita Sharing Moment) yang membahas tentang fotografi serta presentasi seputar Edisi Koleksi National Geographic Traveler terbaru: Wisata Lintas Barat Sumatra (WLBS).

picture courtesy of purwo subagiyo. left to right: vega, arie, daus, feri

Tentu saja, ini menjadi momentum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pekan lalu (21/08) di koridor belakang gedung Kompas Gramedia (KG), Jalan Panjang No 8A telah dilangsungkan acara FRAME (Foto Kita Sharing Moment) yang membahas tentang fotografi serta presentasi seputar Edisi Koleksi National Geographic Traveler terbaru: Wisata Lintas Barat Sumatra (WLBS).</p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/08/resize-untuk-blog.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-313" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/08/resize-untuk-blog-300x136.jpg" alt="" width="300" height="136" /></a></p>
<p style="text-align: center"><strong>picture courtesy of purwo subagiyo</strong>. left to right: vega, arie, daus, feri</p>
<p><span id="more-312"></span></p>
<p>Tentu saja, ini menjadi momentum penting bagi saya, selaku salah satu peserta ekspedisi  WLBS. Dalam suasana sarasehan yang dihadiri puluhan orang serta dipandu Purwo Subagiyo dan Vega Probo, bergulirlah kisah di balik layar seputar ekspedisi ini. Semisal ide saya agar kedua team (Alpha dan Bravo) melakukan <em>‘summit attack&#8217;</em> (bukan arti harfiahnya) atau <em>rendezvous</em> di Bonjol sebagai salah satu daerah di Kepulauan Indonesia yang dilewati garis ekuator.</p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/08/3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-316" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/08/3-300x178.jpg" alt="" width="300" height="178" /></a></p>
<p>Juga ide  Yunas Santhani Azis sebagai Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia dan National Geographic Traveler agar team ekspedisi WLBS menggunakan jalur lintas barat Sumatra sebagai trek paling minim berpapasan dengan kendaraan-kendaraan kelas berat, sekaligus agar kami dapat lebih maksimal mendokumentasikan potensi alam dan budaya sepanjang perjalanan pantai barat yang apik.</p>
<p><strong>Picture courtesy of Feri Latief,</strong> Inong Balee ruins</p>
<p>Firman Firdaus sebagai komandan Team Alpha bercerita, bahwa meski sudah memiliki rencana A dan B, tak jarang harus menyiapkan rencana C seperti saat kejadian team yang beranggotakan lima pria itu bermalam di hutan.</p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/08/1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-317" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/08/1-300x162.jpg" alt="" width="300" height="162" /></a>Dari Team Bravo, fotografer Feri Latief mengisahkan, waktu singkat tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mendapatkan potret-potret berkualitas.  Di satu sisi, ini adalah tantangan dan di sisi lain, ini adalah sebuah wujud pengertian antara penulis, fotografer dan driver terhadap keputusan kapten Team Bravo -dalam hal ini  saya- dalam mentaati perencanaan perjalanan.</p>
<p><strong>Picture courtesy of Feri Latief</strong>, Candi Bahal</p>
<p>Saya tambahkan, itulah pentingnya <em>planning</em> dalam sebuah ekspedisi &#8211;termasuk mempelajari destinasi dengan detail lewat berbagai buku dan sumber internet serta wawancara pendahuluan dengan mereka yang pernah bermukim lama atau  warga asli&#8211;  yang tercermin saat melakukan eksekusi di lapangan. Target lokasi dan waktu, senantiasa disesuaikan dan disampaikan dalam suasana serius tapi santai, hingga saat kami pulang bertugas, unsur kekeluargaanlah yang mencuat kental.</p>
<p>Terima kasih kepada para partisipan yang hadir dalam acara kami dan maafkan juga bila saya langsung menghilang usai sarasehan, karena mesti ke bandara untuk bepergian ke luar kota. Semoga Purwo dari seksi acara akan lebih sering menggelar acara serupa di waktu yang akan datang.</p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/08/2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-319" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/08/2-300x218.jpg" alt="" width="300" height="218" /></a></p>
<p style="text-align: center"><strong>Picture courtesy of Feri Latief</strong>, on the way home</p>
<p>Dan kepada anggota team yang tidak dapat hadir karena kesibukan penugasan di tempat lain, lewat artikel ini saya menyampaikan laporan pandangan mata serta mengenang kembali saat-saat menyenangkan dan menegangkan bersama kalian semua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/08/24/dari-event-frame-foto-kita-sharing-moment-presentasi-wlbs/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>menjadi juri</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/08/04/menjadi-juri/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/08/04/menjadi-juri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 04:20:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[motor show]]></category>

		<category><![CDATA[national geographic traveler]]></category>

		<category><![CDATA[norifumi abe]]></category>

		<category><![CDATA[otomotif]]></category>

		<category><![CDATA[penjurian]]></category>

		<category><![CDATA[ukirsari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Susahnya memutuskan suatu hal sebagai yang terbaik di antara yang baik. Senada dengan mengkaji makna terdalam dari suatu tulisan yang diikutsertakan dalam sebuah lomba. Inilah  pengalaman saya sebagai wakil National Geographic Indonesia saat menjadi juri sebuah kejuaraan lomba menulis di ajang perhelatan otomotif paling akbar di Tanah Air baru-baru ini.

* foto kenangan penulis dengan Norifumi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Susahnya memutuskan suatu hal sebagai yang terbaik di antara yang baik. Senada dengan mengkaji makna terdalam dari suatu tulisan yang diikutsertakan dalam sebuah lomba</em>. Inilah  pengalaman saya sebagai wakil National Geographic Indonesia saat menjadi juri sebuah kejuaraan lomba menulis di ajang perhelatan otomotif paling akbar di Tanah Air baru-baru ini.</p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/08/upload-abe.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-309" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/08/upload-abe.jpg" alt="" width="134" height="200" /></a></p>
<p>* foto kenangan penulis dengan Norifumi Abe, pembalap MotoGP asal Jepang, wafat tiga tahun lalu karena kecelakaan lalu-lintas. diabadikan oleh F Yosi Setyonugroho *</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><span id="more-308"></span></p>
<p>Keasyikan tentu saja ada. Saya bertemu dengan panitia dan para juri dari berbagai latarbelakang media dan institusi akademis, yang dalam kehidupan sehari-hari belum pernah berjumpa. Hanya saat pembentukan penjurian dan di hari penjurian.</p>
<p>Uniknya, secara otomatis, saat kami membaca naskah secara random di awal penjurian saja, pena-pena kami sudah bergerak membubuhkan nilai, memberikan catatan apa yang menjadi kekuatan atau nilai plus, serta mengurangi atau memberikan tanda minus, bila terdapat isi atau sisipan yang mengundang alis berkerut &#8211;tendensius atau menyerang pihak tertentu.  Dan kami melakukannya secara spontan, dengan pemberian angka tidak jauh berbeda.  </p>
<p>Sesudah itu parameter dikumpulkan dan kami merumuskan bersama. Sempat mengundang senyum, karena satu dan lain juri serasa bisa saling membaca isi pikiran lawan bicara atau juri lain di depannya. Bisa disebutkan bahwa tanggung jawab jurnalisme dan akademis sepanjang kami bekerja turut memberikan kontribusi kemiripan persepsi antara satu juri dengan lainnya.</p>
<p>Di sisi lain, bagi saya pribadi, dalam memberikan penilaian atas karya tulis media cetak sampai audio visual, terbayang sebuah diagram kerja di mana penulis menghasilkan karyanya, lantas editor melakukan pembenahan bahkan memberi masukan atau menjadikan si artikel makin meruncing pada permasalahan.  Sebuah kerjasama apik hingga akhirnya sampai ke tangan kami sebagai juri.</p>
<p>Terima kasih saya ucapkan kepada pimpinan National Geographic Indonesia yang telah memberi kepercayaan pada saya untuk menjadi juri dalam perhelatan ini. Juga kepada para editor, yang telah meluangkan waktu bagi penajaman ide para penulisnya, ketelitian mereka dalam memeriksa struktur, cara penyampaian sampai tata bahasa dari karya para peserta di tempat kerja masing-masing, hingga membantu kinerja para juri dalam memeriksa sebuah topik yang diikutkan dalam lomba. </p>
<p>Selamat kepada Anda para pemenang. Sukses Anda yang membawa nama institusi semoga menjadi kebanggaan semua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/08/04/menjadi-juri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>maskot personalisasi pejalan</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/28/maskot-personalisasi-perjalanan/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/28/maskot-personalisasi-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 12:02:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[boneka]]></category>

		<category><![CDATA[mascot]]></category>

		<category><![CDATA[maskot]]></category>

		<category><![CDATA[national geographic traveler]]></category>

		<category><![CDATA[pejalan]]></category>

		<category><![CDATA[personal]]></category>

		<category><![CDATA[traveler]]></category>

		<category><![CDATA[ukirsari]]></category>

		<category><![CDATA[wisata lintas barat sumatra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Membuat perjalanan yang dilakukan banyak orang terasa berbeda atau memiliki sentuhan personal? Salah satu cara saya -juga banyak dilakukan para pejalan sejak dulu-adalah mengikutsertakan boneka, maskot atau benda-benda berkaitan langsung dengan pribadi.
 
 design and lay-out oleh Asteria Iskandar

Julisa Tambunan, seorang psikolog yang bermukim di Ibukota Jakarta, dalam percakapan hangat dengan saya mengungkap, kebiasaan memotret maskot atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membuat perjalanan yang dilakukan banyak orang terasa berbeda atau memiliki sentuhan personal? Salah satu cara saya -juga banyak dilakukan para pejalan sejak dulu-adalah mengikutsertakan boneka, maskot atau benda-benda berkaitan langsung dengan pribadi.</p>
<p> <a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/travelbuddy.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-294" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/07/travelbuddy-300x85.jpg" alt="" width="430" height="112" /></a></p>
<p style="text-align: center"> <em>design and lay-out oleh Asteria Iskandar</em></p>
<p style="text-align: center"><span id="more-292"></span></p>
<p>Julisa Tambunan, seorang psikolog yang bermukim di Ibukota Jakarta, dalam percakapan hangat dengan saya mengungkap, kebiasaan memotret maskot atau membawa boneka dan menampilkannya pada medium potret pribadi sampai blog adalah sebentuk cara aktualisasi diri. &#8220;Jadi, meski seribu orang datang ke menara Eiffel, tetap saja ada nilai pribadi yang berbeda antara satu person dengan lainnya,&#8221; tukas Julisa sembari menambahkan, ia juga memiliki koleksi dedaunan yang ia dapatkan dari setiap tempat yang ia kunjungi.</p>
<p>Pengalaman terbaru saya menyoal maskot, adalah saat melakukan ekspedisi Wisata Lintas Barat Sumatra (WLBS). Salah satu boneka Flight Lieutenant T-Bear ikut serta ke dalam <em>daypack</em> saya dan dialah yang melaporkan perjalanan kami sepanjang waktu, kurun 12 hari perjalanan kami.  Secara personifikatif, letnan penerbang teddy bear yang saya beli bersama pasangan saya di sebuah perhelatan airshow di England, Britania Raya itu menceritakan apa yang ia lihat dan rasakan, dalam sudut pandang pengamat serta peserta tamu dalam ekspedisi kami.   </p>
<p>Ketika saya berniat akan menuliskan di versi cetak National Geographic Traveler menyoal betapa personal dan asyiknya menghadirkan sebuah maskot dalam perjalanan atau traveling, begitu banyak partisipan dari situs pejalan dunia yang saya ikuti (virtualtouristdotcom) menyatakan keikutsertaan mereka sebagai narasumber bagi materi saya.</p>
<p>Terima kasih saya ucapkan kepada webmaster Giampiero yang sudah melakukan pendahuluan memasang minat dan niat saya, sekaligus mengirimkan gambar maskot nya yang paling lucu.  Juga teman-teman saya di komunitas ini, baik yang telah menjadi ‘pengasuh&#8217; para maskot, pengantar pemotretan si boneka, sampai pembawa boneka di setiap perjalanan mereka.</p>
<p>Artikel lengkapnya dapat Anda nikmati di <strong>National Geographic Traveler Juli 2010, volume 2 no 4</strong>.  <strong>Asteria Iskandar</strong>, designer grafis kantor kami, yang melakukan <em>lay-out</em> menyebut potret-potret para maskot ini, &#8220;Sangat lucu dan menggemaskan. Membuat saya kesulitan memilih yang mana. Semuanya terlihat cantik.&#8221;</p>
<p>Dan setelah edisi ini beredar, saya mendapatkan komentar dari para pemilik boneka personifikasi perjalanan mereka sampai biro penyedia jasa wisata boneka serta pemotretannya. Beberapa saya petikkan di sini.</p>
<p>Dari Lou, Amerika Serikat, anggota virtualtouristdotcom, pemilik boneka bernama Rafael dan LumLum: </p>
<p><em>Dear arie,</em></p>
<p><em>It&#8217;s nice to hear from you and I enjoyed looking at the article and cute mascots. I went to Italy in June but didn&#8217;t take Rafael and LumLum with me. I was so glad to see them again when I came back that I sat them both on top of the gifts I brought back. They looked so happy!  I was thinking about you these past few days and I&#8217;m happy to see you&#8217;re doing well. All the best!</em></p>
<p><em> <strong>Lou</strong></em></p>
<p> Dari Russell, boneka wombat milik Kathrin Ellwardt, juga seorang anggota virtualtouristdotcom:</p>
<p><em>Hi Arie,</em></p>
<p><em>thank you so much for the article! Wow, I am famous in Indonesia now&#8230; I wish I could read the article, though&#8230; I can only guess what it is about and what Mommy said about me. I had no idea she speaks your language! LOL.  Give my regards to Flight Lt TBear.</em></p>
<p><em>Wombat cuddles,</em></p>
<p><em><strong>Russell</strong></em></p>
<p> Dari Tomio Okamura, salah satu pemilik Toy Traveling di Praha, Republik Ceko:</p>
<p>            <em>Dear Ukirsari,</em></p>
<p><em>thank you very much for kind message and very nice article!</em></p>
<p><em>Best regards from Prague,</em></p>
<p><em><strong>Tomio Okamura</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/07/28/maskot-personalisasi-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>melengkapi kunjungan lintang - bujur nol derajat</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/25/melengkapi-kunjungan-lintang-bujur-nol-derajat/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/25/melengkapi-kunjungan-lintang-bujur-nol-derajat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 16:33:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[canada water]]></category>

		<category><![CDATA[dlr]]></category>

		<category><![CDATA[ekspedisi]]></category>

		<category><![CDATA[equator]]></category>

		<category><![CDATA[equator line]]></category>

		<category><![CDATA[greenwich]]></category>

		<category><![CDATA[London]]></category>

		<category><![CDATA[national geographic traveler]]></category>

		<category><![CDATA[piccadilly line]]></category>

		<category><![CDATA[travl]]></category>

		<category><![CDATA[tuber]]></category>

		<category><![CDATA[ukirsari]]></category>

		<category><![CDATA[underground]]></category>

		<category><![CDATA[wisata lintas barat sumatra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[ 

ketika ekspedisi national geographic traveler: wisata lintas barat sumatra berakhir dan saya menuliskan tentang D12+, masih saja tersisa kebanggaan.
kebanggaan  di urutan terdepan, tentu saja misi institusi yang telah dilaksanakan sebaik-baiknya. kedua, keinginan untuk menyajikan yang terbaik bagi pembaca kami &#8211;meski harus menunggu jadwal terbit yang tidak dapat disebut sebentar.
tapi di luar itu semua, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/greenwich1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-287" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/greenwich1-147x300.jpg" alt="" width="147" height="300" /></a></p>
<p>ketika ekspedisi <strong>national geographic traveler: wisata lintas barat sumatra</strong> berakhir dan saya menuliskan tentang D12+, masih saja tersisa kebanggaan.</p>
<p>kebanggaan  di urutan terdepan, tentu saja misi institusi yang telah dilaksanakan sebaik-baiknya. kedua, keinginan untuk menyajikan yang terbaik bagi pembaca kami &#8211;meski harus menunggu jadwal terbit yang tidak dapat disebut sebentar.</p>
<p>tapi di luar itu semua, terselip kebahagiaan saya pribadi.</p>
<p>(c) ukirsari, automaticly taken in 2007, winter soltice</p>
<p><span id="more-286"></span></p>
<p>bertepatan dengan saat saya berada di lintang nol derajat kota bonjol, berarti saya telah berkunjung lebih dari satu tempat di indonesia, yang dilintasi <strong>zero lalitude</strong>. pertama, paling terkenal di tanah air, tentu saja pontianak. dengan tugu menjulang tinggi, semacam bola dunia yang dilintasi garis khayali.</p>
<p>kemudian di bonjol, dengan penanda sebuah bangunan yang dibuat mendekati bola warna biru,  serta rumah <em>begonjong</em> khas minangkabau ditambah  lapangan beraspal bertuliskan ‘<em>i crossed the equator</em>&#8216;.</p>
<p>bagi saya, kebanggaan sebagai seseorang yang dilahirkan di negeri kepulauan terbesar atau <em>the biggest archipelago in the world</em> bukan saja karena negeri ini dilewati garis khatulistiwa. namun juga merujuk pada banyaknya titik di penjuru nusantara, di mana ia melintas.</p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/bonjol111.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-288" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/bonjol111-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>di sumatra saja, selain bonjol masih ada kota sasak, kepulauan batu dekat nias dan siberut, serta kepulauan lingga. perairan yang dilintasi adalah selat karimata, selat makassar, teluk tomini, laut maluku sampai laut halmahera. di kalimantan, ada kota pontianak. dan pulau-pulau di timur juga banyak dilintasi, seperti kepulauan kayoa dan halmahera, pulau gebe serta pulau waigeo. disebut terakhir  termasuk dalam jajaran kepulauan raja ampat di papua.</p>
<p>dalam arti kata, sampai saat ini tidak ada negeri lain yang mendapat ‘kehormatan&#8217; begitu banyak dilintasi <em>equator line</em> seperti tanah air dan ini adalah kebanggaan bagi saya.</p>
<p>dalam bahasa yang ‘romantis&#8217; mengenang masa-masa kuliah di bidang oseanografi dulu, saya biasa mengungkap dalam bahasa sederhana, &#8220;ketika matahari berundulasi dan membentuk sudut 23,5 derajat ke utara dan selatan, mengalami deklinasi atau inklinasi, equator menjadi referensi. ketika belahan dunia lain mengalami <em>winter soltice</em> dan <em>summer soltice</em>, <em>equinox</em> maret dan <em>equinox</em> september, hingga malam-malam yang ditemui para penghuninya akan terasa lebih panjang atau memendek, saya di equator bisa menikmati malam dengan durasi tak berubah.&#8221;</p>
<p>intinya adalah sebuah optimisme; tinggal di mana saja bukanlah persoalan. hanya cara menikmati, mengatasi dan memandangnya dari sudut yang menyenangkan hati. sebuah pencarian dan pemahaman bahwa semua tempat di berbagai penjuru dunia adalah indah, pada waktunya. ketika diberi kesempatan untuk bertandang atau bahkan tinggal, tanpa melupakan tempat di mana saya dilahirkan.</p>
<p>kembali kepada  pengalaman saya menyoal <em>zero lalitude</em> and <strong>zero longitude</strong> [<em>prime meridian</em>] rasanya sudah cukup lengkap. pontianak dan bonjol telah saya datangi lewat kunjungan institusi atau <em>assignment</em>. sedang <em>prime meridian</em> atau garis bujur nol derajat di kota greenwich saya datangi dalam kapasitas pribadi.</p>
<p>kebetulan, rumah kedua saya berada cukup dekat dengan kota yang  dalam bahasa saxon disebut sebagai <strong>grenevic</strong> itu. cukup menggunakan <em>tube</em> (<em>underground</em>) piccadilly line di london sampai canada water dan berganti dlr [docklands light railway], turun di cutty shark station. selanjutnya, cukup berjalan kaki santai &#8211;bila beruntung, hampir sepanjang jalan bisa melihat tupai-tupai berkejaran pada dahan-dahan pepohonan oak di musim gugur, ini saat-saat favorit kunjungan saya selama bertahun-tahun ke kota ini&#8211; sampai ke royal conservatory greenwich.</p>
<p>perbedaan antara pencapaian lokasi titik lintang dan titik bujur nol yang saya datangi tentu saja berbeda. jangan tanyakan kemudahan transportasi <em>tube</em> di ibukota britania raya sampai ke greenwich. selembar tiket day-travelcard atau oyster mengatasi segalanya dengan begitu mudah. sementara bepergian ke bonjol yang baru saja saya tuntaskan adalah perjuangan sejauh 2.600 km dimulai dari provinsi paling barat indonesia.</p>
<p>tapi saya mengapresiasi kedua tempat ini dengan sama-sama indah. kuncinya, berpulang pada kesukaan traveling itu sendiri. karena tak semua destinasi <em>is ready to serve</em>. itulah titik tolak sebuah semangat eksplorasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/25/melengkapi-kunjungan-lintang-bujur-nol-derajat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>redeploying days (D12+)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/10/redeploying-days-d12/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/10/redeploying-days-d12/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 16:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[ekspedisi]]></category>

		<category><![CDATA[feri latief]]></category>

		<category><![CDATA[mahdi muhammad]]></category>

		<category><![CDATA[nad]]></category>

		<category><![CDATA[national geographic traveler]]></category>

		<category><![CDATA[sumatra barat]]></category>

		<category><![CDATA[sumatra utara]]></category>

		<category><![CDATA[ucok syofiardi lubis]]></category>

		<category><![CDATA[ukirsari]]></category>

		<category><![CDATA[wisata lintas barat sumatra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[ 
dua hari silam (08/05), tepat pukul 18.18 wib, faisal lubis dan ucok syofiardi lubis, dua driver andalan Team A dan Team B dari ekspedisi &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; mengabarkan kepulangan mereka berdua dengan toyota innova ke jakarta.
senada,  toyota hilux double cabin &#8211;wahana transportasi saya bersama Team B&#8211; telah dipulangkan &#8216;daing&#8217; azril dan bayu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/bonjol11.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-269" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/bonjol11-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>dua hari silam (08/05), tepat pukul 18.18 wib, faisal lubis dan ucok syofiardi lubis, dua <em>driver</em> andalan Team A dan Team B dari ekspedisi &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; mengabarkan kepulangan mereka berdua dengan toyota innova ke jakarta.</p>
<p>senada,  toyota hilux double cabin &#8211;wahana transportasi saya bersama Team B&#8211; telah dipulangkan &#8216;daing&#8217; azril dan bayu ke medan sehari sebelumnya.</p>
<p>dengan pemberitaan itu, ekspedisi yang melibatkan rekan-rekan kerja dari National Geographic Traveler dan harian Kompas ini resmi berakhir.</p>
<p><span id="more-264"></span></p>
<p>ada rasa haru dan kangen meruap bersamaan. bagi saya pribadi, hal terberat setelah ekspedisi berakhir di hari keduabelas (06/05) adalah saat-saat di mana mendengarkan lagu <em>le jardin</em> dan <em>once in the long ago</em> dari album kevin kern; <em>summer daydreams</em> di ruang pribadi saya. setelah sekian lama biasa menikmatinya sembari menyimak keindahan pantai-pantai barat sepanjang nanggroe aceh darussalam sampai dataran tinggi sumatra barat, rasanya sedikit ‘aneh&#8217; berada dalam sebuah ruang tertutup.</p>
<p>ada kerinduan untuk merasai kembali, pagi atau petang dalam perjalanan. berinteraksi dengan para nelayan, masyarakat desa hingga berbagi cerita sembari menikmati kopi atau teh hangat di kota-kota kecil hingga dusun. atau sekadar mengobrol dengan para ibu (utamanya yang berusia lanjut), yang senantiasa memberikan pelukan akrab serta senyum begitu tulus. malam-malam yang mesti dilewatkan di ruas jalanan rusak berat, demi mengejar matahari pagi. seperti juga keasyikan atau (sedikit) kekesalan mengoperasikan gps kantor yang memiliki teknologi mutakhir tapi kadang masih ‘bersuara&#8217;: <em>please find the nearest u-turn, poor satellite receiver</em>.</p>
<p>Team A telah menyelesaikan etape sejauh 3.135 km mulai kantor kompas gramedia di jalan panjang, kebon jeruk, jakarta hingga bandara padang. sementara Team B menempuh etape 2.600 km dari banda aceh hingga bandara padang, belum terhitung jarak peliputan dari banda aceh ke beberapa destinasi wisata yang berdekatan, sekitar 100 km.  dan dalam perjalanan kembali dari bandara padang kembali ke kantor, duet faisal lubis serta ucok syofiardi telah menambah jarak tempuh sejauh 1.277 km lagi.</p>
<p>di luar kegiatan operasional peliputan, sekali lagi saya ingin menggarisbawahi makna perjalanan itu sendiri: <em>mingle  around with my travel-mates is to discover</em>. menemukan (kembali) tempat-tempat yang bisa dikunjungi dalam kapasitas sebagai pejalan, berbincang akrab dengan masyarakat di sana, menikmati keindahan yang ditawarkan dan tak kurang penting adalah menemukan cara membangun kedekatan dengan rekan kerja itu sendiri.</p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/bukittinggi1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-270" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/bukittinggi1-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a></p>
<p>hal paling sulit  bagi saya selama perjalanan ini adalah menuliskan nama setiap perhentian terakhir sebelum istirahat malam, pada penutup wadah <em> backpack</em> saya yang terbuat dari <em>styrofoam</em> (lihat gambar di samping).  saya menyebutnya &#8217;sulit&#8217;, karena dengan menulis satu nama dan satu tanggal, berarti berkurang lagi hari-hari yang akan dilewatkan bersama rekan-rekan saya dari Team B.</p>
<p>dibantu <em>mascot</em> letnan penerbang red arrows raf saya yang tampan; <strong>flight lt t-bear</strong> atau kerap disapa <strong>be&#8217;de bear </strong>oleh rekan-rekan di kantor, saya membubuhkan tanggal dan nama tempat kami berada, sebelum bertolak lagi esok harinya.  dan saat seluruh etape berakhir, saya meminta seluruh anggota Team B memberikan tanda tangan sebagai kenang-kenangan.</p>
<p>hal kecil yang saya lakukan atas kotak-kotak &#8216;lemari sementara&#8217; kami berempat &#8211;karena kami menggunakan mobil bak terbuka, selain terpal penutup usulan ucok syofiardi lubis, kami juga melakukan antisipasi barang-barang basah atau terkena terik matahari dengan memberinya wadah <em>styrofoam</em>. rekan feri latief memberikan usul ini, dan saya menambahkan plastik biru tebal untuk berjaga-jaga. bila dilihat sekilas saat berada di jalan, kami seperti sekumpulan pemancing pulang beraktivitas, dengan empat kotak besar warna putih sebagai penyimpan ikan&#8211; adalah cara saya menuliskan nama-nama di atas kotak agar tidak tertukar.  milik saya bernama &#8216;flight lieutenant  ukirsari&#8217;, milik feri adalah &#8217;superman superkolor&#8217;, kepunyaan ucok adalah &#8216;captain ucok&#8217; dan kepunyaan mahdi bertajuk &#8216;commander mahdi mhd&#8217;. sebuah hal kecil, tapi bagi saya pribadi, itu sebuah bukti kedekatan kami berempat.</p>
<p>saya berterima kasih sebesar-besarnya kepada para <strong><em>travel-mate </em></strong>saya di Team B yang telah menjadikan perjalanan ini sarat kenangan indah. sebuah semangat menemukan hakekat pertemanan dan bagaimana menyelaraskan diri dengan segala kebutuhan team.</p>
<p>saya bangga bisa duduk dan berdiri bersama para rekan yang perkasa di bidang kerjanya tetapi memiliki segala kerendahan hati. mereka adalah <strong>mahdi muhammad, feri latief</strong> dan <strong>ucok syofiardi lubis</strong>. seperti saya juga, kini mereka telah kembali ke <em>desk</em> masing-masing di tempat kerja mereka. <em>glad to be be your travel mate in this expedition. salute! terimoung geunaseh, majuah-juah, tarimo kasih <img src='http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/10/redeploying-days-d12/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>mission accomplished! (D11)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/mission-accomplised-d11/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/mission-accomplised-d11/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 15:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[bonjol]]></category>

		<category><![CDATA[ekspedisi]]></category>

		<category><![CDATA[equator bonjol]]></category>

		<category><![CDATA[equator line]]></category>

		<category><![CDATA[faisal lubis]]></category>

		<category><![CDATA[feri latief]]></category>

		<category><![CDATA[firman firdaus]]></category>

		<category><![CDATA[keluarga lubis]]></category>

		<category><![CDATA[kompas]]></category>

		<category><![CDATA[lubuk sikaping]]></category>

		<category><![CDATA[mahdi muhammad]]></category>

		<category><![CDATA[national geographic traveler]]></category>

		<category><![CDATA[reynold sumayku]]></category>

		<category><![CDATA[sumatra barat]]></category>

		<category><![CDATA[ucok syofiardi]]></category>

		<category><![CDATA[ukirsari]]></category>

		<category><![CDATA[wisata lintas sumatra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[

thanks so much! this is flight lieutenant t-bear and this morning, at may 5th at 09.48,55 am my mum bought me a smallest tee-shirt entitled &#8220;i crossed the equator line&#8221;. this marked that both of the team in the expedition of &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; had been done completely. wow, congrats, mum! i see how [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3382.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-233" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3382.jpg" alt="" width="500" height="332" /></a><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3389.jpg"><br />
</a></p>
<p><em>thanks so much! this is flight lieutenant t-bear and this morning, at may 5th at 09.48,55 am my mum bought me a smallest tee-shirt entitled &#8220;i crossed the equator line&#8221;. this marked that both of the team in the expedition of &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; had been done completely. wow, congrats, mum! i see how busy she is to take my picture and mingle around both team then smile and hugging to each other. if i can borrow a mountaineering idioms, i feel it&#8217;s just like preparing for a summit attack and there you go. all members gather in the finish line. mission accomplished, guys! and oom reynold &#8211;who&#8217;s shy person to be in front of camera&#8211; took me to cover his face and asked mum that he wants to be pictured. daddy … we&#8217;ll be home again soon!!!</em></p>
<p><span id="more-231"></span></p>
<p>pukul 09.48,55 hari rabu, 5 mei 2010 merupakan tanggal berakhirnya ekspedisi &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; yang berlangsung lebih dari 10 hari. banyak hal yang bisa kami petik dari petualangan bermobil ini. ada sekian cerita siap dibagikan kepada kedua belah pihak; Team A dan Team B yang bertemu di garis khayali khatulistiwa di kota bonjol, sekitar 1 jam perjalanan dari bukittinggi, sumatra barat.</p>
<p>tapi ada baiknya, sebelum membedah cerita seru kami, kedua team mengabadikan diri bersama dan berpelukan. tensi, kerinduan serta segala urusan kantor, larut dalam canda tawa di titik yang dilewati equator. sebuah titik yang juga ditemukan di pontianak, sasak, dekat gorontalo hingga kawasan raja ampat.</p>
<p>bila boleh meminjam istilah pendakian; <strong>summit attack</strong>, begitulah perasaan Team B saat akan &#8220;menghadapi&#8221; Team A. hanya menjalin komunikasi selama 10 hari via telepon &#8211;baik percakapan maupun sms&#8211;, kini kami akan bertemu secara realita. seperti apakah rambut mereka setelah bermalam di hutan, sebagaimana juga bagaimana bau kaos kami setelah sekian kali menyeberang muara sungai dengan mobil diangkut naik perahu serasa menjadi nostalgia yang menerbitkan senyum.</p>
<p>summit attack yang kami rencanakan, meleset 11 jam dari yang direncanakan. kondisi trek dipenuhi tanah longsor serta hujan lebat menjadi salah satu pemicu. ditambah berbagai liputan menarik yang membuat kami tak bisa berpindah kembali ke ruas jalanan dengan begitu cepat.</p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3389.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-236" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3389.jpg" alt="" width="500" height="332" /></a></p>
<p>solusinya, Team B bermalam di kediaman ibunda driver ucok syofiardi. merasai kenikmatan aneka hidangan minang sembari berharap-harap terus melakukan kontak dengan Team A yang masih berada di sekitar kawasan pandai sikek.</p>
<p>dan summit attack orisinal berlangsung pukul 21.35 waktu lubuksikaping, ketika Team B menyambut Team A di depan rumah ucok dengan pelukan  hangat dan tawa yang berderai.  selamat datang, seluruh rekan petualang …. kita sudah berada di rumah lagi!<br />
<a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3382.jpg"><br />
</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/mission-accomplised-d11/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>melacak jejak portugis dan belanda di natal (D10)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/melacak-jejak-portugis-dan-belanda-di-natal-d10/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/melacak-jejak-portugis-dan-belanda-di-natal-d10/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 15:27:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[ekspedisi]]></category>

		<category><![CDATA[feri latief]]></category>

		<category><![CDATA[kompas]]></category>

		<category><![CDATA[madina]]></category>

		<category><![CDATA[mahdi muhammad]]></category>

		<category><![CDATA[mandailing natal]]></category>

		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<category><![CDATA[national geographic traveler]]></category>

		<category><![CDATA[si ucok]]></category>

		<category><![CDATA[ucok syofiardi]]></category>

		<category><![CDATA[ukirsari]]></category>

		<category><![CDATA[wisata lintas barat sumatra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[this is your flight lieutenant t-bear speaking, today is chill-out, all of the team members are ready to explore mandailing natal. my mum, oom feri, oom mahdi and oom ucok can not help but laugh sometimes somehow since all the acronym sounds funny and out of their mind. but that&#8217;s part of the journey, how [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2924.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-226" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2924-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><em>this is your flight lieutenant t-bear speaking, today is chill-out, all of the team members are ready to explore mandailing natal. my mum, oom feri, oom mahdi and oom ucok can not help but laugh sometimes somehow since all the acronym sounds funny and out of their mind. but that&#8217;s part of the journey, how local &#8220;celebrate&#8221; their ability to build communication and speaking its language, called &#8220;melayu pesisir&#8221;, so here they go. ugd doesn&#8217;t mean &#8220;unit gawat darurat&#8221; or emergency unit in formal language, it&#8217;s mean &#8216;ujung gading&#8217;. same as they say &#8220;madina&#8221; to express the complete name &#8220;mandailing natal&#8221;. all nice high ground to see the scenery (normally at the hill top) or we said in english as simple as &#8216;panoramic view&#8217; said as &#8220;panatapan&#8221;. i just remember one of my parents&#8217; friend from france, alois aurelle who likes to say &#8220;it&#8217;s so zimple&#8221;  (with &#8216;z&#8217; in the end, hehehee). this is the full report, written by my mum as usual</em>.</p>
<p><span id="more-225"></span></p>
<p>hari kesepuluh petualangan Team B dari ekspedisi &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; (04/05) adalah menjelajah kawasan mandailing natal, sebuah kota perhentian kecil, yang sarat jejak peninggalan sejarah.</p>
<p>komandan harian mahdi muhammad mengungkap, tempat ini didatangi seorang petualang portugis, yang mana captain ukirsari juga menemui jejaknya di kota syriam, sekitar 1,5 jam perjalanan dari yangon &#8211;bekas ibukota myanmar&#8211; dalam traveling pribadinya sekitar 4 tahun silam.</p>
<p>keunikan bahasa, sejarah dan kehidupan kota kecil itu memikat hati kami berlima (termasuk mobil andalan team, &#8220;si ucok&#8221;, toyota hi lux double cab warna hitam mengilap) untuk bertandang ke sana. dari niatan menengok sisa benteng belanda dan beberapa titik sejarah, akhirnya kami memutuskan untuk menginap sekaligus di mess natal.</p>
<p>patut digarisbawahi, malam itu kondisi listrik padam, akibat beberapa tanah longsor di atas bukit telah membawa akibat tumbangnya pohon-pohon yang mengenai kabel listrik. otomatis kota gelap gulita, hanya ada beberapa batang lilin dan lampu tempel menemani. bila pun ada sedikit penerangan listrik, tentu diupayakan pemilik rumah atau warung sendiri lewat generator tenaga minyak solar.</p>
<p>selain kondisi listrik padam, aliran air juga tak terhenti, hingga kami berempat terpaksa menggunakan sediaan air mineral untuk membersihkan tubuh. terima kasih kepada pt sinar sosro yang telah melengkapi kendaraan tempur kami dengan pasokan air mineral dan tentu saja teh yang menyegarkan.</p>
<p>tapi di luar persoalan listrik dan air, ada hal lebih mendasar yang sejatinya dapat membuat nyali ciut, tapi kami berusaha tak memikirkannya terlalu dalam. apa itu? daerah ini baru saja usai konflik dalam bilangan hari saja. persoalan pemekaran wilayah dan tapal batas ditengarai menjadi biang keladinya. hari-hari masyarakat menggelar pasar non-permanen atau dikenal sebagai &#8220;pekan&#8221; tidak dilangsungkan dalam beberapa hari ke belakang, mengingat kondisi tidak kondusif ini.</p>
<p>beruntung, ketika kami berjalan-jalan mengabadikan matahari terbit esok harinya, pasar sudah dibuka.  jalanan depan mess dipenuhi pedagang lesehan menjual sayur-mayur, cabai hingga hidangan sarapan menggiurkan. lidah berdecak, indera penciuman pun sarat aroma sate padang, dadar unti dan banyak lagi kudapan.</p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2948.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-227" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2948-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>dan rekan ucok syofiardi baru saja menyadari; betapa mess tempat tinggal kami dipenuhi polisi &#8220;kiriman&#8221; dari markas besar terdekat. &#8220;bah, rupanya mereka semalam menginap pula bersama kita!&#8221; komentar ucok dalam logat perpaduan batak dan minang yang menjadi ciri khasnya.</p>
<p>meski usai konflik, warga memberikan kesempatan begitu besar kepada kami untuk mengeksplorasi daerah mereka. beberapa sisa benteng masih ada di sini, sedang rumah tempat sutan takdir alisyahbana dan sutan syahrir sudah tidak berbekas. keturunan portugis? &#8220;aih, itu seperti mencari zarum dalam zerami,&#8221; tutur seorang penduduk lokal. mereka menyebut diri orang-orang madina serta melayu pesisir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/melacak-jejak-portugis-dan-belanda-di-natal-d10/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>riding the car with the boys (D9)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/riding-the-car-with-the-boys-d9/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/riding-the-car-with-the-boys-d9/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 15:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[desa bahal]]></category>

		<category><![CDATA[ekspedisi]]></category>

		<category><![CDATA[feri latief]]></category>

		<category><![CDATA[gunung tua]]></category>

		<category><![CDATA[kompas]]></category>

		<category><![CDATA[lintas barat sumatra]]></category>

		<category><![CDATA[mahdi muhammad]]></category>

		<category><![CDATA[national geographic traveler]]></category>

		<category><![CDATA[pom bensin]]></category>

		<category><![CDATA[si ucok]]></category>

		<category><![CDATA[tapanuli selatan]]></category>

		<category><![CDATA[traveling]]></category>

		<category><![CDATA[ucok syofiardi]]></category>

		<category><![CDATA[ukirsari]]></category>

		<category><![CDATA[wisata lintas barat sumatra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[this is flight lieutenant t-bear and i&#8217;m sorry to use one of drew barrymore&#8217;s movie “riding the car with the boys” as entitlement. i just want to explain my mum&#8217;s feeling to be in a team with the boys. They&#8217;re helpful, fully dedicated to their works and ahem, handsome for sure  this is what [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3194.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-221" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_3194-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><em>this is flight lieutenant t-bear and i&#8217;m sorry to use one of drew barrymore&#8217;s movie “riding the car with the boys” as entitlement. i just want to explain my mum&#8217;s feeling to be in a team with the boys. They&#8217;re helpful, fully dedicated to their works and ahem, handsome for sure <img src='http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> this is what my mum&#8217;s writing today.</em></p>
<p><span id="more-220"></span></p>
<p>berada dalam Team B yang didominasi pria membuat saya, ukirsari merasa bangga. bukan karena menjadi pusat perhatian, tapi karena diperlakukan setara dan bisa bersikap layaknya teman dekat, tanpa mengacu kepada gender. semisal rasa tolong menolong, kebersamaan sampai kebiasaan bersenda gurau. mereka percaya bahwa keputusan bisa diambil oleh siapa saja dari anggota team, asal dilakukan tidak berdasar rasa emosional dan tentu berangkat dari kesepakatan bersama.</p>
<p>salah satu bentuknya, adalah ketika kami berempat memutuskan bermalam di salah satu depot penjualan bahan bakar alias pom bensin, demi bisa melakukan pemotretan dan wawancara terhadap situs percandian hindu – buddha di kawasan gunung tua, sebuah tempat yang sulit dideskripsikan dalam peta, bagi mereka yang belum mengenal <em>intersection</em> jalur lintas barat tengah dan timur sumatra.</p>
<p>kkm feri latief menginginkan sesi mengabadikan candi paling baik dilakukan pagi, apalagi mengingat awan menggantung berhari-hari yang berpotensi mengurangi keapikan foto. sementara captain ukirsari dan komandan harian mahdi muhammad sudah tidak sabar untuk mendatangi situs yang terletak “nun jauh di sana”, pernah terdengar tapi belum sempat mereka eksplorasi. hal ini juga didukung sailor ucok syofiardi yang siap mengantar kapan saja. alhasil, trek berbilang ratusan km bisa dituntaskan secara cermat.</p>
<p>kalaupun ada yang &#8216;diributkan&#8217; oleh team menyoal bermalam darurat itu (03/05), tak lain adalah serangan nyamuk tak kunjung berhenti. padahal kkm feri menyebut, sangat mengasyikkan bermalam di bawah langit terbuka. sayang, meski mengaku berkulit badak, akhirnya ia menyerah masuk ke dalam mobil agar bisa terlelap. rekan-rekan  Team B lainnya memilih kabin sebagai tempat beristirahat.</p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2647.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-222" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2647-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>kegigihan itu berbuah dengan suksesnya team bertandang ke situs percandian yang berada dalam kondisi mengenaskan. kompleks pertama tinggal reruntuhan, kedua berbau pesing dan dionggoki sampah –konon sisa dari perkemahan&#8211;  serta yang ketiga berada di tengah-tengah jemuran pakaian milik penduduk.</p>
<p>alangkah merananya. sebuah pemandangan yang membuat kami tercekat. bukan persoalan kami telah mendatanginya begitu jauh, tapi justru pada kenyataan bahwa penghargaan masyarakat atas harta tak ternilai nusantara terasa mengenaskan. kami &#8220;menangis&#8221; dalam diam, sebelum akhirnya bertolak menuju mandailing natal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/riding-the-car-with-the-boys-d9/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>catch the rainbow (D8)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/catch-the-rainbow-d8/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/catch-the-rainbow-d8/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 15:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[barus]]></category>

		<category><![CDATA[ekspedisi]]></category>

		<category><![CDATA[feri latief]]></category>

		<category><![CDATA[mahdi muhammad]]></category>

		<category><![CDATA[national geographic traveler]]></category>

		<category><![CDATA[pakkat]]></category>

		<category><![CDATA[pelangi]]></category>

		<category><![CDATA[sumatra utara]]></category>

		<category><![CDATA[syofiardi ucok]]></category>

		<category><![CDATA[ukirsari]]></category>

		<category><![CDATA[wisata lintas barat sumatra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[yipiiii &#8230; flight lieutenant t-bear is on the road again with Team B from the expedition of “Wisata Lintas Barat Sumatra”. from the small lively city of pakkat we&#8217;re heading to barus, known as one amongst the oldest cities in the west coastal zone of sumatra. here the complete report written by mum.

Team B dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2264.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-218" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2264-300x192.jpg" alt="" width="300" height="192" /></a><em>yipiiii &#8230; flight lieutenant t-bear is on the road again with Team B from the expedition of “Wisata Lintas Barat Sumatra”. from the small lively city of pakkat we&#8217;re heading to barus, known as one amongst the oldest cities in the west coastal zone of sumatra. here the complete report written by mum.</em></p>
<p><span id="more-216"></span></p>
<p>Team B dari ekspedisi “Wisata Lintas Barat Sumatra” terus bergerak mendekati garis khatulistiwa di sumatra barat, yang menjadi tempat pertemuan mereka dengan Team A –bergerak mulai hari sama (25/04) melintas rute berlawanan dari Team B, yaitu provinsi lampung, bengkulu, jambi sampai sumatra barat.</p>
<p>pada hari ke-8 (02/05) Team B menyisir peninggalan sejarah yang lekat dengan terbentuknya kota barus sebagai bandar internasional hingga pendangkalan muara sungai yang menyebabkan bentukan kota yang dikenal sebagai barus kini.</p>
<p>benteng peninggalan portugis masih tegak berdiri di pinggir kota, terlihat sisanya hingga kini. sementara makam (kerkhof) belanda dekat jalan pelabuhan telah diambil tulang belulangnya oleh keluarga ahli waris mereka, kini meninggalkan tonggak bata tua yang bersatu dengan halaman milik warga.</p>
<p>tak terlupakan, pengalaman spiritual kami di tanah batak. mengamati warga desa beribadat ke gereja. kepala desa setempat, bapak junghas sitohang menerima kami dengan senang hati dan tangan terbuka, sembari menjelaskan sekilas desa mereka tercinta. rasanya kaki enggan melangkah pergi, saat meresapi keramahan tulus mereka.</p>
<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2477.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-217" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2477-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>menjelang masuk sibolga, kami menjumpai bianglala menghias cakrawala. kkm feri latief mengungkap, ini adalah sebuah berkah, bahwa perjalanan kami bersama “si Ucok” toyota hi lux d cab dilindungi olehnya. sedang bagi captain ukirsari, tentu saja peristiwa &#8216;menjaring&#8217; bianglala dengan kamera merupakan peristiwa romantis, yang mengantar kenangannya pada piramida giza di mesir yang dibingkai bianglala saat ia bersama pasangan berkunjung ke sana pada tahun 2005.</p>
<p>bagaimana dengan marinir mahdi muhammad? sebagai komandan pelaksana harian, ia tengah merapikan rencana perjalanan kami selanjutnya, berkutat dengan peta untuk menentukan rute tercepat menuju padanglawas dan gunung tua, tempat &#8216;jalur&#8217; candi hindu - buddha banyak ditemukan. sementara bung ucok syofiardi sibuk memarkir mobil kami di beberapa titik agar bisa diabadikan bersama keindahan bianglala yang kakinya berakhir di garis cakrawala.</p>
<p>kami berlima mencintai pelangi. bianglala yang menjadikan perjalanan ekspedisi ini makin berwarna. indahnya kehidupan di luar hirukpikuk kota-kota metropolitan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/catch-the-rainbow-d8/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>tikungan seribu masalah (D7)</title>
		<link>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/tikungan-seribu-masalah-d7/</link>
		<comments>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/tikungan-seribu-masalah-d7/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 14:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ukirsari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[danau toba]]></category>

		<category><![CDATA[doloksanggul]]></category>

		<category><![CDATA[ekspedisi]]></category>

		<category><![CDATA[feri latief]]></category>

		<category><![CDATA[jalanan rusak]]></category>

		<category><![CDATA[kompas]]></category>

		<category><![CDATA[mahdi muhammad]]></category>

		<category><![CDATA[national geographic traveler]]></category>

		<category><![CDATA[tele]]></category>

		<category><![CDATA[ucok syofiardi]]></category>

		<category><![CDATA[ukirsari]]></category>

		<category><![CDATA[wisata lintas barat sumatra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[this is flight lieutenant t-bear, reporting live from our beloved car, toyota hi lux double cab in the very memorable event &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; in B Team (b … is that taken from &#8220;bear&#8221;, since mostly team members looks like a cuddly bear except a skinny one, oom ucok? hehehe … do not ask [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2118.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-211" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2118-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><em>this is flight lieutenant t-bear, reporting live from our beloved car, toyota hi lux double cab in the very memorable event &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; in B Team (b … is that taken from &#8220;bear&#8221;, since mostly team members looks like a cuddly bear except a skinny one, oom ucok? hehehe … do not ask me, i just jokingly said). what i want to tell you all for this daily report just be careful along the way that lead you home again!</em></p>
<p><span id="more-210"></span></p>
<p>memasuki hari ketujuh (01/05) ekspedisi &#8220;Wisata Lintas Barat Sumatra&#8221; yang digelar National Geographic Traveler bersama Kompas dan didukung oleh Pt Toyota Astra Motor serta PT Sinar Sosro, Team B bergerak dari pulau samosir, menuju tele, doloksanggul dan bermalam di pakkat, sebuah kota kecil perhentian antarkota yang menghubungkan sibolga dan medan melewati jalur barat.</p>
<p>hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah, kondisi jalan rusak berat, terutama memasuki wilayah pakkat serta jalan aspal yang terkelupas hingga menuntut perhatian ekstra tinggi.  belum lagi bentang alam sepanjang kiri kanan jalan yang rawan longsor.</p>
<p>Team B juga mengalami hal tak mengenakkan menyoal ruas jalanan di etape tele - pakkat. yang sempat menimbulkan keheranan, kejadian bukan terjadi di ruas jalanan rusak atau berbatu-batu, tapi justru di sebuah tikungan &#8220;sederhana&#8221;. kami menyebutnya demikian, karena sepintas terlihat biasa saja, tidak licin, tidak sulit, tidak membentuk tapal kuda, atau apapun yang menuntut perhatian ekstra.</p>
<p>tapi justru di situlah kejadian itu terjadi. kami terperosok di parit sedalam kira-kira 1,5 m dengan &#8220;mulusnya&#8221;. setelah ditinjau kembali, kontur jalanan membentuk sudut sekitar 30 derajat, aspal sebagian terkelupas dan kondisi licin akibat gerimis.<br />
<a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2148.jpg"><br />
</a><br />
seorang pengemudi mobil derek, parulian marbun &#8211;tentu dengan alat berat andalannya&#8211; memberikan jasa bantuan, setelah didatangi langsung oleh kkm feri latief yang mencari bantuan dengan jasa ojek dadakan. komentar masyarakat dan parulian sendiri setelah mengetahui lokasi kejadiannya, langsung berseru, &#8220;oh di situ? bah, itu memang namanya tikungan seribu masalah. bukan hanya kalian, hampir setiap saat juga bikin masalah itu tikungan!&#8221;</p>
<p>setelah membetulkan tunggangan yang kami namai &#8220;si Ucok&#8221; (kkm feri mengusulkan ia dinamai swarnadwipa, marinir mahdi sedang pikir-pikir, dan captain ukirsari menginginkan black beauty, tiba-tiba kami menoleh ke arah sailor ucok syofiardi dan seketika itu juga &#8220;namakan saja seperti dia, si ucok!&#8221;), kami menelaah lokasi kejadian lebih detail. banyak remukan kaca bisa ditemukan di sekitar tikungan, sepasang sandal perempuan dan beberapa barang rawan pecah yang berserak.</p>
<p>beberapa mobil angkot rute setempat hingga satuan polisi memberikan simpati dengan berhenti sejenak dan menanyai kondisi kami. tapi soal lokasi, tetap saja komentar mereka, &#8220;di sini? pantas saja!&#8221;<br />
<a href="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2148.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-213" src="http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/files/2010/05/ach_2148-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a><br />
kejadian ini makin membukakan mata kami. tak hanya keindahan alam, budaya, manusia dan persahabatan antaranggota team saja yang perlu dimaknai. tapi juga kondisi ruas jalanan. yang berada dalam kondisi baik dan apik, sudah pasti membantu memuluskan perjalanan. namun yang buruk, justru mesti ditemani, dijadikan kawan dan tidak dimusuhi. begitulah adanya. la vita e bella!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://traveler.blog.nationalgeographic.co.id/2010/05/06/tikungan-seribu-masalah-d7/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
