Selamat Berhari Batik, Indonesia

Posted by Ukirsari on October 2, 2009

Ketika perusahaan mengumumkan tanggal 2 Oktober 2009 menjadi hari wajib mengenakan batik, reaksi teman-teman di redaksi National Geographic tidak berlebihan. Apa pasal? Tanggal ini bertepatan dengan hari Jumat, saat di mana kami memang mengenakan batik. Kami menyebutnya “Hari Batik di Kantor”.

picture courtesy of Fredy Susanto, Borobudur image (c) ukirsari

Toh tidak demikian halnya dengan salah satu sahabat saya, fotografer di lantai atas unit kami. Sedikit panik, semalam ia ‘berburu’ kemeja batik ke mal terdekat dan masuk antrean kasir sampai 30 menit. Belum lagi bila menghitung waktu yang ia gunakan saat memilih motif batik yang paling pantas buat ia kenakan. Sebuah batik kategori ‘kasual’ untuk dikenakan di saat bekerja, bukan kategori ‘berat’ berbahan sutera untuk kebutuhan resepsi atau formal.

Saat itu, via sms ia mengeluh, “Banyak banget orang membeli batik dan terjadi antrean gila-gilaan.” Jawab saya, “Kamu tidak mesti beli atau mencari, bila tidak mencintai.” Untungnya, dia memahami apa yang ingin saya sampaikan lewat pernyataan pendek itu. Jadi tidak perlu menjelaskan panjang lebar.

Bagi saya pribadi, mengenakan batik adalah suatu pemahaman dan keinginan berkesadaran. Bahwa saya memiliki sesuatu, yang menjadi bagian dari akar budaya saya. Alangkah senang hati saya, ketika bergabung dengan kantor berketetapan adanya “hari batik bersama”. Mengapa tidak? Inilah salah satu ajang berekspresi, tampil dengan bangga ‘memamerkan’ kekayaan budaya yang kita miliki bersama.

Beberapa rekan dari unit lain, sempat berseru tak percaya ketika berjumpa saya dengan pakaian batik hari ini. Karena biasanya, busana saya adalah khas para pejalan; praktis tanpa banyak pernik dan tidak perlu ganti lagi bila pulang dari kantor akan bepergian jauh –naik pesawat sekalipun. Saya hanya menanggapi dengan senyum lebar dan berkata, “Mungkin kalian saja yang luput memperhatikan, karena setiap Jumat, warga kantor saya selalu ber-batik.”

Sikap saya dalam berbatik, tidak berangkat dari kekesalan atas klaim negeri tetangga. Saya hanya merindukan dan menginginkan; senantiasa merengkuh jati diri negeri yang telah saya miliki sejak lahir. Bahkan ketika saya belum ada, hal-hal yang diwariskan oleh nenek moyang saya.  Saya ingin ikut memeliharanya meski dalam skala kecil; untuk diri sendiri.

Bahwa kemudian terjadi klaim dan pengakuan, tetap saja ada pembeda yang meretas pengertian milik kita memang (akan atau sudah jadi) milik mereka. Saya pernah berbincang dengan Bapak Eko Hartoyo, Kepala Seksi Edukasi dan Pameran Museum Tekstil Jakarta. Saya bertanya seputar perbedaan batik Indonesia dengan negeri seberang. Jawabnya, “Mereka tidak kaya soal isen (isian) yang biasanya dikenal dalam batik jawa. Salah satunya cecek (dibuat dengan cara mentotolkan canthing seperti membuat titik berulang-ulang di atas kain). Mereka tidak mengenal isen yang sangat detail.”

Ibu Christina yang menjadi staf pengajar batik di museum itu juga menambahkan, “Mereka memang tidak suka isen. Biasanya sebatas motif besar-besar, kurang detail dan kalau mesti mengerjakan yang rumit selalu menyebut, ‘Di kita tidak begitu rumitlah’.”

Tentu saja tidak begitu rumit atau detail, pikir saya. Karena citarasa yang dimiliki juga berbeda. Bila sebatas teknik, para perajin dan penyuka batik negeri sana dapat mengikutinya. Tapi kekayaan pola, makna dan peruntukan batik sendiri bukanlah hal yang tercakup dalam pemahaman mereka.

Dan yang saya perbincangkan dengan Bapak Eko dan Ibu Christina baru menyoal batik pedalaman (Yogyakarta dan Solo). Belum lagi soal batik pesisiran (misalnya Cirebon, Lasem, Pekalongan dan Madura) dan berbagai pulau di luar Jawa. Mana mungkin mereka dapat merengkuh segala pundi-pundi kekayaan budaya kita itu seutuhnya?

Namun, tentu saja sebagai anak bangsa saya mengucap syukur. Atas pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai warisan budaya tak benda. Saya yakin dan percaya; bahwa sesuatu yang menjadi milik suatu bangsa, tak akan pernah tercabut dari akarnya. Keberadaan materi, pengakuan dan keinginan merebut bisa saja terjadi. Tapi berpulang pada nurani dan esensi adiluhung budaya bangsa, hanya bangsa yang bersangkutanlah pemilik sejatinya.

Sembari menuliskan blog ini, saya terkenang peristiwa sepekan lalu. Saat saya dan pasangan menghadiri konser Classic FM Live di Royal Albert Hall, London (24/09/09), yang menghadirkan bintang tamu violist Sarah Chang dan trio sopran The Priest. Bagian dari busana yang saya kenakan, tentulah scarf batik kesayangan saya.

Ketika penonton seberang saya tengah mengagumi detailnya, saya menoleh dan berkata, “Anda tertarik? Terbanglah ke Indonesia. Kami memiliki begitu banyak batik. Yang saya kenakan ini berasal dari Yogyakarta.” Hati ini mengembang sedemikian hangatnya. Saya bahagia telah mengenalkan batik kepada mereka -entah siapapun namanya.

Selamat berhari batik, Indonesia.



5 Responses to “Selamat Berhari Batik, Indonesia”

  1.   sutrisno_585 Says:

    orang indonesia wajib melestarikan produksi indonesia biar nggak diakui negara lain

  2.   Larejawi Says:

    Saya bangga menjadi orang Indonesia dengan segala kekayaan alam didalamnya.

  3.   Ukirsari Says:

    @ sutrisno dan larejawi >> terima kasih. memang sudah pada tempatnya kita melestarikan dan merasa bangga. lakukan dengan segala cara positif. hidup tanah air kita :)

  4.   Myke Jeanneta Says:

    Saya suka pakai blus batik, dipadupadankan dengan celana panjang, nyaman dipakai :)
    Mbak, jurnalnya ‘Selamat Berhari Batik, Indonesia’ OKE… :-bd

  5.   Ukirsari Says:

    buat ibu myke tersayang,
    lah pastinya kita mesti bangga berbatik. adem, nyaman dan gaul banget. terima kasih compliment nya :)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>